Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Jalan Pulang

Nadya berusia tiga puluh tahun ketika ia menyadari satu hal yang paling menakutkan dalam hidupnya: ia tak pernah benar-benar pulang, meski tubuhnya selalu berada di rumah. Rumah itu berdiri di gang sempit Jakarta Barat, dengan cat dinding yang mulai mengelupas dan suara jam dinding yang berdetak lebih keras setiap malam. Di sanalah Nadya tumbuh—di antara doa ibu yang panjang dan harapan ayah yang tak pernah diucapkan, tapi selalu terasa menekan dada. Sejak kecil, mimpi Nadya sederhana: ia ingin menulis. Kata-kata adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh. Namun bagi ayahnya, mimpi harus punya bentuk yang jelas—seragam kantor, gaji tetap, masa depan yang “aman”. Bagi ibunya, mimpi adalah pengorbanan: menahan keinginan demi keluarga, demi anak, demi ketenangan rumah. Tak ada yang benar-benar salah. Tapi tak ada yang benar-benar saling mendengar. Setiap kali Nadya mencoba bercerita tentang apa yang ia inginkan, kalimatnya selalu patah di tengah jalan. Ayahnya menanggapi dengan nas...