Jalan Pulang

Nadya berusia tiga puluh tahun ketika ia menyadari satu hal yang paling menakutkan dalam hidupnya:
ia tak pernah benar-benar pulang, meski tubuhnya selalu berada di rumah.
Rumah itu berdiri di gang sempit Jakarta Barat, dengan cat dinding yang mulai mengelupas dan suara jam dinding yang berdetak lebih keras setiap malam. Di sanalah Nadya tumbuh—di antara doa ibu yang panjang dan harapan ayah yang tak pernah diucapkan, tapi selalu terasa menekan dada.
Sejak kecil, mimpi Nadya sederhana: ia ingin menulis. Kata-kata adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh. Namun bagi ayahnya, mimpi harus punya bentuk yang jelas—seragam kantor, gaji tetap, masa depan yang “aman”.
Bagi ibunya, mimpi adalah pengorbanan: menahan keinginan demi keluarga, demi anak, demi ketenangan rumah.
Tak ada yang benar-benar salah. Tapi tak ada yang benar-benar saling mendengar.
Setiap kali Nadya mencoba bercerita tentang apa yang ia inginkan, kalimatnya selalu patah di tengah jalan. Ayahnya menanggapi dengan nasihat, bukan empati. Ibunya menjawab dengan kekhawatiran, bukan kepercayaan.
Akhirnya Nadya memilih diam—dan diam itu tumbuh menjadi tembok.
Puluhan tahun emosi tertimbun rapi:
kecewa yang disimpan, marah yang disamarkan, dan cinta yang tak tahu cara pulang.
Sampai suatu malam, ledakan itu tak bisa dicegah.
“Ayah nggak pernah mau dengar aku!” suara Nadya bergetar, bukan karena marah semata, tapi karena lelah.
“Ayah cuma mau aku hidup sesuai versi ayah!”
Ayahnya terdiam. Untuk pertama kalinya, bukan karena tak punya jawaban, tapi karena baru menyadari: selama ini ia bicara tentang masa depan, tanpa pernah bertanya tentang mimpi.
Ibunya menangis, bukan karena pertengkaran itu, melainkan karena sadar bahwa ketenangan rumah yang ia jaga selama ini ternyata dibangun dari perasaan yang dipendam.
Malam itu hampir meretakkan segalanya. Kata-kata tajam melukai, kenangan lama terungkit, dan pintu kamar sempat tertutup keras.
Namun di balik semua kekacauan itu, ada satu hal yang akhirnya jujur: rasa takut kehilangan satu sama lain.
Pagi datang dengan sunyi yang berbeda.
Ayah duduk di ruang tamu, menunggu.
Ibu menyeduh teh, tangannya gemetar.
Dan Nadya keluar kamar dengan mata sembab, membawa naskah tulisannya—hal yang selama ini ia sembunyikan.
Ia meletakkannya di meja. Bukan sebagai pembelaan, tapi sebagai undangan untuk memahami.
Di sanalah Nadya mengerti:
pulang bukan berarti menyerah pada keinginan orang lain,
dan pergi bukan berarti meninggalkan keluarga.
“Ini bukan tentang pergi jauh,” batinnya,
“tapi berani pulang.”
Berani pulang sebagai diri sendiri.
Berani pulang dengan mimpi, luka, dan kejujuran.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun,
rumah itu tak lagi terasa sempit.

By: Lembaran Elegi
Jakarta, 10-01-2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepecundang apa dirimu?

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong