Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong



Enam bulan aku menganggur di kota besar.
Gaji terakhir telah lama habis, BPJS pun sudah kucairkan.
Satu per satu tabungan lenyap, disusul pinjam ke sana-sini, hingga akhirnya pinjaman online menjadi pilihan terakhir—bukan untuk hidup layak, tapi sekadar bertahan.

Setelah enam bulan, semuanya benar-benar selesai.
Kost habis.
Uang habis.
Aku meninggalkan kamar sempit itu dan mulai hidup di pinggir jalan.

Hari-hariku diisi dengan mencari sisa makanan dari tong sampah, dan mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk diisap kembali.
Bukan karena kebiasaan, tapi karena keadaan.

Tak jarang saat aku tertidur di emperan jalan, orang-orang menghampiri.
Ada yang minta tolong karena lapar.
Ada yang minta ongkos pulang kampung.
Ada juga yang sekadar ingin makan.

Setiap cerita menyentuh hatiku.
Namun kenyataannya pahit—posisi kami sama.
Aku tak punya apa-apa selain rasa iba.

Malam hari adalah ujian tersulit.
Emperan jalan menjadi wilayah serigala malam—mereka yang meminta rokok dan makanan dengan dalih uang keamanan.
Karena itulah sebagian dari kami memilih bermalam di masjid, depan rumah sakit, atau pos ronda yang ada hansipnya.

Di titik terendah itu, aku mencoba bangkit.

Sebuah panggilan interview datang.
Tak lama kemudian, aku diundang untuk mengikuti training selama lima hari.
Belum tentu lolos, tapi itu satu-satunya harapan.

Tempat training cukup jauh dari tempatku saat itu.
Setiap hari aku berjalan kaki hampir dua jam hingga sore demi sampai ke sana.
Biaya kost di sekitar tempat kerja sangat mahal.
Makanan pun demikian.

Aku tidak memikirkan kenyamanan.
Aku hanya berpikir bagaimana caranya bisa bekerja dan bertahan.

Masjid tidak bisa menjadi tempat bermalam.
Pengurusnya berkata sering terjadi kehilangan, dan masjid selalu ditutup setelah Isya.
Namun mereka masih mengizinkanku menitipkan tas dan mandi.
Itu sudah sangat berarti.

Setiap malam selama training, aku tidur di emperan jalan, di atas kursi panjang dari kayu.
Hingga malam keempat.

Aku digerebek hansip, Pak RT, dan lima pria bertubuh besar.
Aku diinterogasi.
Ditanya asal-usul.
Diminta KTP.
Lalu dibawa ke pos RW.

Dengan jujur aku menjelaskan bahwa aku sedang training lima hari, yang belum tentu lulus, dan tak mampu menyewa kost karena biayanya mahal.
Aku menunjukkan bukti chat perusahaan dan foto dokumentasi selama training.

Mereka akhirnya mengerti.
Aku dipersilakan beristirahat di pos RW.
KTP ditahan sementara, dan baru dikembalikan saat aku hendak pergi.
Malam itu, aku tidur dengan sedikit rasa aman.

Untuk bertahan hidup, aku menumpang wifi di stasiun.
Air minum aku dapatkan dari masjid atau stasiun.
Karena setiap kali meminta langsung kepada orang, hampir selalu berakhir penolakan.

Hari kelima berlalu.
Aku dinyatakan lulus.

Enam bulan menganggur.
Dua bulan menjadi gelandangan.
Dua belas ribu lamaran kerja terkirim.
Tujuh puluh tiga interview—termasuk panggilan palsu dan harapan yang runtuh satu per satu.

Dan akhirnya, semua itu berakhir di penghujung tahun ini.

Aku masih berdiri.
Dengan lelah yang panjang, luka yang dalam, tapi harapan yang belum mati.

Bismillah, untuk hidup yang lebih baik.


---

Jakarta, 12-12-2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepecundang apa dirimu?

Greetings..🤗☕