Album Foto Lidya

Album foto lidya

Malam itu, aroma sayur bening dan ikan goreng memenuhi ruang makan. Lampu kuning menggantung di atas meja, menciptakan suasana hangat. Makan malam selalu menjadi ritual wajib bagi ayah dan Lidya. Di sinilah mereka melepas lelah, saling bercerita tentang hari yang panjang.

Namun, malam ini Lidya tak sepenuhnya fokus. Pandangannya melayang pada foto keluarga yang tergantung di ruang tamu. Foto itu diambil ketika Lidya masih balita, di hari ulang tahunnya yang ketiga.

"Yah," Lidya akhirnya membuka suara, suaranya pelan.
Ayah yang sedang merapikan piring menoleh. "Hm?"

"Aku mirip ibu waktu kecil, nggak?"
Ayah terdiam sejenak. Bibirnya tersenyum samar. "Ayah nggak tahu persis, tapi ayah punya album foto ibu. Mau lihat?"

Lidya mengangguk antusias. Ayah bangkit dan mengambil album foto dari lemari kayu di ruang tamu. Debu tipis menempel di sampulnya.

"Ini foto ibu waktu SMA," ujar ayah sambil menunjuk gadis berambut kuncir kuda, tersenyum lebar sambil memegang bola basket.
"Ibu ternyata jago olahraga ya?" Lidya terpesona.

Ayah mengangguk. "Ibumu dulu aktif banget. Basket, voli, apa saja diikutinya. Sering sekali ada tawaran pemotretan yang datang ke rumah kakekmu. Dia orang yang pandai bergaul, banyak teman."

Lidya diam sesaat, matanya tak lepas dari foto-foto ibunya. "Terus… ibu sekarang di mana, Yah?"

Ayah menghela napas panjang, menatap meja yang kini sudah kosong.
"Terakhir ayah dapat kabar… ibumu kerja di kota."

"Ayah nggak kangen?" Lidya mendongak, suaranya nyaris berbisik.

Ayah tersenyum, tetapi senyum itu rapuh. "Bohong kalau ayah bilang nggak rindu. Tapi yang ayah rindukan itu kenangannya… bukan orangnya."

Keheningan menyelimuti ruang makan. Jam dinding berdetak pelan, seakan menambah berat udara.

"Kenapa ibu pergi, Yah?" tanya Lidya, akhirnya mengucapkan pertanyaan yang selama ini dipendam.

Ayah memejamkan mata sesaat. "Sampai detik ini ayah masih bertanya-tanya. Malam itu… ibumu pergi dengan seorang pria yang ayah bahkan tidak kenal. Ayah pernah bertanya pada diri sendiri, apa salah ayah? Apa ayah terlalu mengekang? Ibumu adalah perempuan yang suka kebebasan, pandai berbicara, penuh mimpi. Mungkin setelah menikah, ia merasa mimpinya terhenti. Mungkin ia lelah."

Lidya terdiam, hatinya ikut sesak.

Ayah menatap putrinya, kali ini dengan sorot mata yang tenang. "Nak, mungkin tidak setiap wanita bisa menjadi ibu, tapi setiap ibu adalah wanita. Mereka juga punya mimpi, punya keinginan. Dan kadang… kita tidak bisa menghentikan mereka ketika mereka memilih jalan yang membuat mereka merasa hidup."

Lidya menahan air mata. Ia bangkit, mendekat, lalu memeluk ayahnya.
"Kalau begitu, aku nggak akan kemana-mana, Yah."

Ayah tertawa kecil, mengusap rambut Lidya. "Dan ayah akan selalu ada di sini. Untukmu."

Malam itu mereka duduk bersama, menatap foto ibu. Mungkin luka itu tidak akan benar-benar sembuh, tetapi di ruang kecil itu, mereka menemukan cara untuk tetap bertahan—bersama.

Tanggerang, 23-09-2025
By: Lembaran Elegi





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepecundang apa dirimu?

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong