Gunting, Sisir dan Cerita Ayah Lidya

Gunting, Sisir, dan Cerita Ayah Lidya

Siang itu matahari terasa dekat sekali dengan kepala. Udara panas menelusup sampai ke sela napas, tapi ayah justru menunda waktu makannya. Katanya, ia ingin memangkas rambut di sebuah lorong kecil di pinggiran kota—lorong yang penuh dengan tukang pangkas rambut tua.

Aku, Lidya, saat itu berusia sembilan tahun. Dalam perjalanan menuju ke sana, ayah sempat berhenti di kios buku dan membelikanku sebuah buku kecil bersampul cokelat serta sebuah pena biru.
“Tulis apa saja yang kamu dengar,” katanya lembut, “selama kamu merasa itu penting.”

Lorong itu ternyata sempit dan terbuka, tanpa pendingin udara, hanya kipas angin kecil yang berputar malas di setiap sudut. Namun, wajah-wajah para pemangkas di sana begitu ramah dan menyejukkan. Rambut mereka rata-rata sudah memutih, kulitnya legam oleh matahari, dan di meja kerjanya hanya ada dua benda: gunting dan sisir.

Mereka bekerja perlahan, penuh ketenangan, seolah setiap helaian rambut adalah bagian dari doa yang harus diselesaikan dengan hati-hati. Aku melihat, satu orang pelanggan bisa menghabiskan waktu hingga dua jam untuk satu potong rambut. Tapi tak ada yang mengeluh. Semua tampak menikmati ritme pelan yang menenangkan.

Ketika ayah dipersilakan duduk, sang pemangkas menaruh kain di bahu ayah, lalu mulai membuka percakapan dengan suara yang hangat.
“Gimana hari ini, Pak? Masih sibuk kerja?”
Ayah tersenyum kecil. “Masih, tapi ya… begitulah, kerjaan makin banyak, tapi hasilnya kadang tak seberapa.”

Pemangkas itu tertawa pelan. “Hidup memang selalu begitu, Pak. Kadang tajam, kadang tumpul. Sama kayak gunting ini,” ujarnya sambil mengangkat alat yang sudah ia genggam mungkin selama puluhan tahun.

Mereka berbincang lama. Tentang kampung halaman, tentang istri dan anak, tentang rindu yang entah kapan bisa terbayar lunas. Aku menulis semua itu di buku kecilku.

Pemangkas itu bercerita, bahwa dengan gunting dan sisir yang sama, ia pernah berkeliling ke lima kota di Indonesia. “Mungkin uangnya tidak besar,” katanya, “tapi cukup untuk makan, cukup untuk bertahan, cukup untuk hidup dengan tenang.”
Ia diam sebentar, lalu menambahkan,
“Kadang, saya merasa sesak di dada waktu lihat istri mutar radio tua dan dengar lagu dari kampung. Rasanya ingin pulang. Tapi pulang butuh modal besar, dan di rantau kita cuma jadi orang biasa-biasa saja. Pulang malu, tak pulang hati rindu.”

Ayah terdiam. Lalu ia mulai bercerita tentang pekerjaannya yang berat, tentang istrinya—ibuku—yang sering marah karena masalah kecil, tentang rumah tangga yang kadang seperti gelas retak: masih bisa dipakai, tapi tak lagi utuh.
Pemangkas itu mengangguk pelan. “Saya paham, Pak. Istriku dulu juga begitu, di tahun-tahun awal pernikahan kami.”
Ia tersenyum, matanya tampak redup tapi damai.
“Tapi dia sering ikut ke setiap kota tempat aku bekerja. Lama-lama dia paham siapa aku, dan aku pun belajar memahami dia. Wanita itu makhluk yang rumit, tapi tanpa mereka dunia ini hampa.”

Ia berhenti sejenak, menatap lantai yang dipenuhi rambut.
“Ada satu ritual yang selalu aku lakukan kalau hati ingin menyerah,” katanya pelan. “Aku menatap wajah mereka saat tertidur—istriku dan anakku. Aku usap rambut mereka, lalu aku bisikkan:


‘Maafkan ayah, belum bisa bangun istana, tapi ayah janji akan terus berjuang. Langkah ayah mungkin pelan, tapi ayah tak akan mundur.’”



Ayah tak menjawab. Ia hanya menatap cermin di depannya. Matanya memantulkan bayangan dua laki-laki yang sama-sama lelah, tapi tetap berdiri tegak demi keluarga.
Aku, di kursi kecil dekat dinding, hampir tertidur. Suara gunting terdengar seperti musik yang menenangkan — cling, cling, cling — berirama seperti orkestra kecil yang menyembuhkan hati.

Mungkin bagi sebagian orang, dua jam terlalu lama untuk sekadar potong rambut. Tapi bagi mereka yang datang membawa beban, dua jam di kursi pangkas bisa terasa terlalu singkat.

Sore mulai turun ketika potongan terakhir selesai. Ayah tampak lebih rapi, lebih tampan, tapi yang paling jelas adalah kerutan di dahinya seolah hilang. Beban yang tadi tersimpan, seakan ikut terbuang bersama helaian rambut yang jatuh ke lantai.

Aku menatap sekeliling. Hampir semua pelanggan yang bangkit dari kursi itu punya wajah yang sama — wajah yang sedikit lebih ringan, lebih lega.

Sambil menutup bukuku, aku menulis kalimat terakhir hari itu:


“Di tempat panas dan sempit itu, aku belajar bahwa rambut bukan cuma soal penampilan. Ia adalah seni hidup — tentang kesabaran, ketulusan, dan keberanian untuk terus tumbuh, meski sudah berkali-kali dipotong.”

Tentang ayah, pemangkas, dan lidya kecil yang belajar bahwa rezeki dan kebahagiaan kadang tersembunyi di balik bunyi gunting dan sisir yang beradu pelan.

Tanggerang, 10-10-2025
By : Lembaran Elegi




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepecundang apa dirimu?

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong