Lidya dan harga sebuah "Tidak"
Lidya dan Harga Sebuah ‘Tidak’
Usia Lidya baru dua puluh lima. Tapi wajahnya tampak lebih tua dari itu — bukan karena keriput, melainkan karena lelah yang lama disembunyikan.
Ia hidup dengan senyum yang selalu siap dipakai, dengan kata “iya” yang lebih cepat keluar dari bibirnya dibanding pikirannya sendiri.
Sejak kecil, Lidya terbiasa untuk tidak membuat masalah. Ayahnya percaya kesempurnaan adalah ukuran cinta; ibunya menuntut kepatuhan seolah itu kewajiban moral.
“Nilai sembilan itu bagus, tapi kenapa bukan sepuluh?”
“Jangan bikin malu keluarga, Lidya.”
Kata-kata itu tumbuh jadi hukum tak tertulis di dalam dirinya: aku harus baik agar dicintai.
Dan begitulah, ia tumbuh jadi anak yang selalu bisa diandalkan — juga, anak yang tidak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri.
Di kantor desain tempatnya bekerja, semua orang menyukai Lidya.
“Lidya, bantu revisi punya aku ya?”
“Lid, kamu bisa lembur malam ini, kan?”
Ia mengangguk tanpa berpikir, meski matanya perih karena kurang tidur.
Atasan memujinya rajin, rekan kerja memujinya baik — tapi di balik semua pujian itu, ada kenyataan yang ia tahu: mereka memujinya karena ia tak pernah menolak.
Suatu kali, proyek besar kacau karena kesalahan salah satu rekan. Tapi yang disalahkan justru Lidya, karena ia “tidak mengingatkan dari awal.”
Ia hanya diam, menunduk, menanggung malu di depan ruangan penuh orang.
Sore itu, ia pulang dengan dada sesak, tapi tetap menenangkan diri:
“Nggak apa-apa, yang penting semua baik-baik aja.”
Namun di kamarnya yang sunyi, Lidya menatap langit-langit dan merasa jiwanya semakin tipis — seperti kertas yang nyaris sobek.
Teman-temannya pun sama.
Selalu datang kalau butuh ditemani, butuh uang, atau butuh telinga untuk curhat panjang.
Tapi ketika Lidya mencoba bercerita balik, mereka cepat-cepat mengganti topik.
“Lidya kan kuat, nggak usah dibawa perasaan.”
Ia tersenyum. Tapi setelah itu, tak ada yang tahu bahwa ia menangis di kamar mandi, diam-diam.
Pacarnya, Reno, memberi pelukan dan kata manis, tapi lama-lama tuntutannya mulai terasa berat.
“Kamu jangan sering nolak aku bantuin cewek ya, aku cuma kerja.”
“Aku sibuk, kamu ngertiin aku dong.”
Dan Lidya mengerti — selalu mengerti, bahkan ketika dirinya sendiri tak pernah dimengerti.
Ia takut kehilangan, takut dianggap tidak pengertian. Maka ia tetap bertahan, sekalipun hatinya perlahan kehilangan bentuk.
Suatu malam, tubuhnya benar-benar tumbang.
Demam tinggi, dada sesak, tapi tetap duduk di depan laptop karena harus menyelesaikan desain rekan kerja yang titip tugas.
Reno marah karena ia membatalkan janji makan malam.
Ibunya menelpon, menyalahkannya karena belum pulang untuk ulang tahun ayahnya.
Teman kantornya mengirim pesan:
“Lid, kamu kenapa akhir-akhir ini susah dimintain tolong?”
Lidya hanya sempat mengetik, “Maaf, aku lagi kurang enak badan.”
Setelah itu, dunia jadi gelap.
Ia terbangun di rumah sakit, dengan suara mesin infus berdesing pelan.
Tidak ada siapa pun di sana.
Tidak pacar, tidak teman, tidak keluarga.
Hanya suster yang masuk mengganti air infus, lalu keluar lagi.
Di dada Lidya, ada sesuatu yang retak — bukan karena sedih, tapi karena sadar.
“Selama ini aku hidup buat mereka,” pikirnya, “tapi siapa yang hidup buat aku?”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, air mata Lidya jatuh bukan karena rasa bersalah, tapi karena kejujuran yang menyakitkan.
Hari-hari setelah keluar dari rumah sakit menjadi titik balik.
Ia membeli buku catatan kecil dan mulai menulis di halaman pertama:
“Aku tidak egois kalau aku menjaga diriku.”
“Aku berhak menolak.”
“Aku ingin hidup tanpa ketakutan.”
Di kantor, ketika rekan memintanya lembur lagi, Lidya tersenyum dan berkata,
“Maaf, aku nggak bisa malam ini. Aku perlu istirahat.”
Ruangan sepi sesaat. Mereka saling pandang, sedikit kaget.
Tapi dunia tidak runtuh. Tidak ada yang membencinya.
Dan Lidya merasa… ringan.
Ia memutuskan hubungannya dengan Reno dengan tenang.
“Aku capek, Ren. Aku nggak mau terus ngertiin tanpa pernah dimengerti.”
Reno tertawa meremehkan, tapi Lidya hanya menatapnya sekali, lalu pergi.
Ia tak menoleh lagi.
Di rumah, ibunya sempat marah ketika Lidya menolak permintaan pulang mendadak.
“Kamu udah berubah, Lidya. Dulu kamu anak yang penurut.”
Dan untuk pertama kalinya, Lidya menjawab pelan,
“Iya, Ma. Karena dulu aku terlalu takut.”
Ibunya terdiam. Percakapan itu berakhir tanpa teriakan, tapi dengan ruang kecil untuk kejujuran yang baru lahir.
Beberapa bulan kemudian, Lidya mengikuti pameran seni lokal.
Ia memajang lukisan berjudul “Batas.”
Di kanvas itu, seorang perempuan berdiri di tengah cahaya, dikelilingi tangan-tangan gelap yang mencoba menariknya dari berbagai arah.
Namun perempuan itu tidak lagi menunduk — ia berdiri tegak, dengan mata yang tenang.
Seorang pengunjung bertanya, “Apa maksud lukisan ini?”
Lidya tersenyum lembut.
“Tentang seseorang yang baru belajar mengatakan tidak.”
Malam itu, di antara lampu-lampu hangat pameran, Lidya tahu:
hidupnya tidak sempurna, tapi akhirnya miliknya sendiri.
Dan itu, bagi Lidya, adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Lidya menatap langit malam dari jendela apartemen kecilnya.
Kota masih bising, tapi dalam dirinya, ada keheningan yang damai.
Untuk pertama kali dalam dua puluh lima tahun, ia merasa cukup — bukan karena disukai orang lain, tapi karena ia akhirnya menyukai dirinya sendiri.
Tanggerang, 06-10-2025
By:Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar