Lidya dan Layla
Lidya dan Layla
Langit Jakarta malam itu mendung. Hujan gerimis membasahi trotoar ketika Lidya pulang kerja dengan langkah gontai. Suara atasannya masih terngiang-ngiang di kepala.
Atasan: “Lidya, target kamu telat lagi! Bisa nggak kamu kerja lebih cepat?”
Lidya: (menunduk) “Baik, Pak.”
Di depan kos, seekor kucing betina berbulu putih dengan belang coklat-abu di kepala dan ekor duduk menunggu. Matanya bulat, kuning, seolah ikut memandang lelahnya.
Lidya: (tersenyum lelah) “Layla… kamu nunggu aku lagi ya?”
Layla: “Meong.”
Lidya: “Hari ini berat banget, Lay. Rasanya semua orang nuntut aku jadi sempurna.”
Layla menggesekkan kepalanya ke kaki Lidya, bulunya yang lembut memberi rasa hangat. Malam itu, Lidya makan mie instan sambil mengelus Layla dan menangis pelan.
Hari berikutnya, dunia Lidya benar-benar runtuh. Sebuah pesan masuk di ponselnya.
“Lid… maaf. Aku jatuh cinta sama orang lain. Kita sampai di sini aja.”
Lidya duduk di halte, hujan semakin deras. Tangannya gemetar, air mata bercampur air hujan. Malamnya ia memeluk Layla erat-erat.
Lidya: “Dia selingkuh, Lay… Tiga tahun aku bertahan, nabung, berjuang. Katanya mau nikahin aku.”
Layla: “Meong.” (menatapnya lekat-lekat)
Lidya: (menarik napas panjang) “Iya, mungkin lebih baik sekarang aku sakit daripada nanti setelah menikah. Tapi sakitnya… gila, Lay.”
Layla menjilat pipi Lidya. Untuk pertama kalinya malam itu, Lidya tersenyum kecil.
Namun badai belum berhenti. Beberapa minggu kemudian, rekan kerja yang paling ia percaya menjebaknya.
Rekan Kerja: “Maaf ya, Lid… aku harus kasih laporan itu ke bos. Kalau nggak, aku yang dipecat.”
Lidya: “Tapi itu salah kamu, kenapa aku yang kena?”
Rekan Kerja: (diam, lalu pergi)
Hari itu Lidya menerima surat peringatan dari HRD. Pulang kerja, ia duduk di balkon kos. Layla duduk di pangkuannya, ekornya bergerak pelan.
Lidya: “Aku nggak ngerti lagi, Lay. Rasanya semua orang ninggalin aku.”
Layla: “Meong.”
Lidya: (menatapnya dengan mata basah) “Kamu nggak akan ninggalin aku kan?”
Layla rebah di kakinya, seolah berkata aku di sini. Lidya menangis sampai tertidur.
Bulan demi bulan berlalu. Lidya bangkit perlahan. Ia ikut kursus online, memperbaiki CV, dan melamar pekerjaan baru. Sampai akhirnya, sebuah email datang. Ia diterima di kantor yang lebih baik.
Hari itu, Lidya pulang membawa ikan kesukaan Layla.
Lidya: “Lay! Kita berhasil! Kita pindah kos, lebih besar, ada jendela buat kamu lihat dunia luar.”
Layla: “Meooong!” (meloncat kegirangan)
Malam itu, Lidya duduk di lantai kamarnya yang baru. Layla tidur di pojok kasur, bulunya bersih, berkilau di bawah cahaya lampu.
Lidya: “Kalau bukan karena kamu, mungkin aku udah nyerah, Lay. Kamu rumahku di kota yang asing ini.”
Lidya tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak lama, langit Jakarta terasa ramah. Ia memejamkan mata, merasa hidupnya punya cahaya lagi.
Kadang, penyelamat kita bukanlah manusia yang kita harapkan. Bisa jadi hanya seekor kucing yang setia menunggu di depan pintu, tapi keberadaannya membuat kita memilih untuk bertahan.
Tanggerang, 27-09-2025
By:Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar