Malam Panjang Lidya

Malam panjang Lidya

Lidya menutup pintu kost dengan pundak, lalu menjatuhkan diri di kasur tipis yang sudah mengeluarkan bunyi berderit. Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam. Tubuhnya pegal, matanya berat, pikirannya kosong. Usianya baru 24, tapi setiap hari terasa seperti beban panjang yang tak selesai-selesai.

Seharusnya, ia masih penuh tenaga. Seharusnya, umur segini hidupnya sedang mekar. Tapi yang ada hanyalah rutinitas: bangun, kerja, pulang, tidur. Mengulang besok, lagi dan lagi.

Ponselnya bergetar.
Notifikasi dari grup Sahabat SMA.

Sebuah foto baru muncul. Tiga orang teman lamanya duduk di kafe, wajah mereka cerah. Caption ringan: “Next time full team yaa! Kangen rame-rame kayak dulu.”

Lidya menatap layar itu lama.
Jempolnya sudah di atas keyboard, tapi tak ada kata yang bisa keluar.

---

Kenangan SMA tiba-tiba menyalak.
Ia ingat dulu, circle itu paling riuh di kelas. Nongkrong di warung bakso depan sekolah, berbagi mimpi besar: jadi arsitek, pengusaha, penulis terkenal. Mereka berjanji tak akan pernah terpisah, akan selalu ada untuk satu sama lain.

Waktu itu, Lidya percaya.
Ia yakin, usia 24 akan jadi masa penuh warna.
Nyatanya kini, circle itu perlahan menghilang.
Maya sibuk jadi ibu baru.
Raka pindah kerja ke kota lain.
Dinda jarang online sejak kuliah S2 di luar negeri.
Obrolan di grup pun jadi hambar: “Kapan nikah, Lid?” atau “Kerja di mana sekarang?”

Lidya merasa asing. Seperti penonton di luar pagar: hanya bisa melihat hidup orang lain berlari, sementara dirinya diam di tempat.

---

Air matanya hampir jatuh. Ia menggulir layar, melihat foto-foto mereka di masa SMA yang masih tersimpan di galeri. Wajah-wajah riang, janji-janji yang kini tinggal arsip.

Pertanyaan menghantam kepalanya:
Kalau aku hilang dari lingkar ini, ada yang peduli nggak?

Dadanya sesak. Jempolnya sudah bergerak ke tombol “Leave Group”.
Ia ingin keluar, hilang, tidak terlihat lagi.

Tapi pandangannya terpaku pada satu foto lama. Foto mereka berenam, masih berseragam putih abu-abu, tertawa tanpa beban.
Matanya panas. Bukan sekadar rindu, tapi marah—marah pada kenyataan bahwa hidup tidak seperti yang ia bayangkan, marah pada dirinya sendiri yang merasa tertinggal.


---

Tangannya gemetar. Ia meletakkan ponsel, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Lidya tahu: circle itu memang memudar, dan ia tak bisa memaksa waktu mundur.

Namun, ia juga sadar: hidupnya tidak boleh bergantung pada lingkar lama semata.
Ia butuh ruang baru. Butuh orang-orang baru yang bisa sejalan dengan fasenya sekarang.

Pelan-pelan, ia menarik laptop dari bawah meja. Membukanya, lalu mengetik hal sederhana: daftar kecil hal yang ingin ia lakukan untuk dirinya sendiri—ikut kelas menulis murah, gabung komunitas baca, bahkan sekadar jalan pagi di taman.
Hal-hal sepele, tapi nyata.

Ia berhenti sejenak, lalu kembali ke grup Sahabat SMA.
Dengan napas panjang, ia mengetik:
“Kalau ada waktu, kabarin. Aku usahain datang.”

Pesan terkirim.
---

Lidya menatap layar kosong kamar. Senyumnya pahit, tapi ada hangat samar di dadanya.
Lingkar lama memang memudar, tapi bukan hilang sepenuhnya.
Dan lebih dari itu, ia sadar: lingkar hidup tak harus berhenti di masa lalu. Ia bisa menciptakan lingkar baru, sekecil apa pun.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Lidya merasa ia masih punya kendali—bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri.

Tanggerang, 03-10-2025
By:Lembaran Elegi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepecundang apa dirimu?

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong