Meja Makan Lidya
“Meja Makan Lidya ”
Hari itu, Lidya dan kedua saudaranya berlari pulang dari sekolah.
Masing-masing menggenggam rapor dengan jantung berdebar.
“Aku ranking dua!” seru Lidya bangga, menaruh rapornya di meja ruang tamu.
Kakaknya langsung menyambar, “Aku ranking satu lagi. Ibu pasti seneng.”
Si bungsu ikut menyelip, “Tapi aku juara lomba menggambar, Bu guru bilang gambarku dipajang di aula!”
Mereka tak sadar, suara mereka saling bertumpuk, seakan siapa yang paling keras akan mendapat perhatian ibu lebih dulu.
Ibu muncul dari dapur. Matanya berputar memperhatikan tiga anaknya, sebelum akhirnya mengambil rapor kakak.
“Bagus sekali! Ini baru anak Ibu!” katanya sambil tersenyum lebar.
Tatapannya kemudian berpindah pada rapor Lidya.
“Kamu harus bisa seperti kakakmu, Nak. Nilaimu bagus, tapi lihat ini… masih kalah di Matematika.”
Lidya diam. Matanya panas.
Malam harinya, meja makan menjadi panggung perbandingan.
Ayah ikut menimpali, memuji yang nilainya tertinggi, memberi wejangan pada yang lain.
Lidya dan si bungsu hanya saling pandang.
Makan malam seharusnya hangat, tetapi bagi mereka rasanya seperti ujian yang tak pernah selesai.
Dua Puluh Tahun Kemudian
Rumah tua itu kini terasa dingin.
Ayah duduk di kursi roda, tubuhnya renta.
Ketiga anak berkumpul, tetapi bukan untuk merayakan kebahagiaan.
“Kalian nggak tahu rasanya begadang tiap malam jagain Ayah,” suara kakak bergetar. “Aku yang paling sering bolak-balik rumah sakit!”
Lidya mendengus, “Kamu pikir aku nggak berkorban? Aku kirim uang tiap bulan, Kak! Tapi kamu nggak pernah bilang terima kasih.”
Si bungsu ikut meninggi, “Dan aku yang tiap hari di rumah! Semua urusan rumah, mandiin Ayah, masak… semua aku yang kerjakan. Kalian cuma datang kalau ada masalah besar!”
Suara mereka makin panas, makin keras.
Mata ayah hanya menatap kosong, seolah melihat masa kecil mereka terulang.
“Aku dari kecil disuruh mengalah!” teriak kakak. “Aku nggak pernah punya masa kecilku sendiri!”
Lidya mengetuk meja keras-keras, “Dan aku harus terus jadi penyeimbang, Kak! Jangan kalah sama kamu, tapi jangan juga terlalu menonjol. Aku capek!”
Si bungsu menitikkan air mata, “Kalian pikir jadi ‘anak kesayangan’ itu enak? Semua orang iri padaku. Tapi aku selalu harus sempurna. Aku nggak bisa salah!”
Hening sejenak. Lalu suara ayah yang pelan memecah udara.
“Cukup.”
Semua menoleh.
“Kalian pikir Ayah tidak dengar? Ayah minta maaf. Kami gagal mendidik kalian dengan adil. Apa didikan yang baik, teruskan. Yang buruk, tinggalkan. Jangan biarkan kesalahan Ayah dan Ibu memisahkan kalian. Setelah Ayah pergi, kalian hanya punya satu sama lain.”
Suasana beku. Tak ada yang berani bicara.
Malam itu meja makan terasa sunyi.
Setelah Kepergian
Hari pemakaman usai. Rumah semakin sepi.
Ketiga anak duduk di meja makan yang sama, kursi ayah kini kosong.
Lidya yang pertama bicara.
“Aku… cuma pengen dipeluk waktu kecil. Setiap kali dibandingkan, rasanya aku nggak cukup baik.”
Kakak menunduk. “Aku marah bukan sama kalian. Aku marah sama beban yang kupikul sendirian.”
Si bungsu menyeka air mata. “Aku selalu iri sama kalian yang bisa bebas jadi diri sendiri. Aku nggak pernah punya kebebasan itu.”
Lidya meraih tangan adiknya. Kakak pun menghela napas panjang lalu ikut meraih tangan mereka berdua.
Untuk pertama kalinya, mereka saling memeluk.
Tidak ada kata-kata. Hanya tangisan yang akhirnya keluar setelah dua puluh tahun tertahan.
Malam itu meja makan tak lagi menjadi tempat perbandingan.
Ia menjadi saksi awal mereka belajar menjadi keluarga lagi.
Kali ini, tanpa rasa iri.
Tanpa banding-bandingan.
Hanya tiga anak yang akhirnya menemukan cara untuk pulang ke satu sama lain.
Tanggerang, 25-09-2025
By: Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar