Pita Merah Jambu Lidya

Pita Merah Jambu Lidya

Aku masih menyimpan pita merah jambu itu.
Pita yang kusimpan di dalam kotak kayu kecil, di sudut lemari yang jarang dibuka orang. Benda itu menjadi satu-satunya hadiah pertama—dan terakhir—yang pernah kuterima dari ayahku.

Aku lahir dari keluarga yang tidak sempurna. Ayah dan ibu menikah terlalu muda, ketika mereka bahkan belum tahu bagaimana menjaga diri, apalagi rumah tangga. Mereka sering bertengkar, berdebat soal siapa yang paling lelah, siapa yang paling benar. Hingga saat aku belum genap berusia satu tahun, rumah itu pecah. Ayah pergi, ibu memilih bertahan hidup sendirian bersamaku.

Aku tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahku. Tak ada foto, tak ada nomor telepon, tak ada alamat. Bagiku, ayah hanya nama yang samar-samar disebut ketika ibu sedang marah atau sedang menangis.

Masa kecilku tidak mudah. Setiap kali teman-temanku merayakan ulang tahun di sekolah, aku hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati, ada rasa iri. Tapi aku tahu ibu pulang kerja selalu lelah. Kadang marah, kadang menangis di kamar. Aku hanya bisa diam, menahan semua keinginan.

Aku ingat, suatu hari saat TK, ada pedagang mainan yang menjual pita merah jambu. Hatiku sangat menginginkannya. Aku membayangkan pita itu diikatkan di rambutku saat ulang tahun. Tapi aku tidak berkata apa-apa, karena aku takut membuat ibu sedih jika ia tidak mampu membelikannya.

Hari-hari berlalu. Tahun-tahun berlalu. Aku tumbuh menjadi wanita dewasa, berusia 25 tahun, dengan perasaan kosong yang sulit kujelaskan. Di balik kemandirianku, ada rasa haus yang tak bisa hilang: aku ingin tahu siapa ayahku.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya pada ibu.

“Bu, siapa ayah?”
Ibu terdiam lama. Lalu ia bercerita.
Tentang pertengkaran-pertengkaran kecil yang membesar. Tentang keburukan ayah yang tak pernah memberi nafkah. Tentang keputusan pahit yang harus ia ambil.

Aku mendengarkan semuanya. Tapi hatiku hanya ingin tahu. Itu saja.

Beberapa hari kemudian, ibu memberiku sebuah alamat. “Ini alamat kampungnya. Di sana ada kakek dan nenekmu,” katanya.

Perjalananku ke kampung itu terasa panjang. Ada rasa cemas. Ada rasa takut ditolak. Namun ketika aku sampai, semua terasa akrab. Nenek langsung memelukku. Kakek menatapku lama, lalu tersenyum.

“Mirip sekali dengan ayahmu,” katanya pelan.

Dari merekalah aku mendengar cerita yang membuat dadaku sesak.
Ayah ternyata sudah menikah lagi, memiliki tiga anak tiri. Ibu tiriku bekerja di luar negeri. Ayah yang merawat ketiga anak itu. Hingga suatu hari, saat hendak menjemput mereka, ayah mengalami kecelakaan. Meninggal di tempat karena kehabisan darah.

Aku terdiam. Aku tak sempat mengenalnya.
Tak sempat memanggilnya ayah.
Tak sempat marah, tak sempat memaafkan.

Nenek lalu mengajakku masuk ke kamar ayah. Lemari tua dibuka. Di dalamnya ada beberapa baju yang masih tergantung rapi, sebuah dompet, dan sebuah kotak kecil.

“Ini untukmu,” kata nenek.

Aku mengambilnya. Di dalamnya ada sepucuk surat dan… pita merah jambu.

Tanganku bergetar saat membuka surat itu. Tulisan tangan ayah terpampang jelas di sana.


“Untuk anakku.
Ayah minta maaf. Ayah tidak ada saat kamu butuh. Ayah gagal menjadi ayah.
Ayah sering melihatmu dari jauh, tapi tidak berani mendekat.
Setiap kali ulang tahunmu, ayah ingin memberi hadiah, tapi tak punya uang.
Pita ini ayah beli bertahun-tahun lalu, saat akhirnya ayah mampu. Tapi ayah takut kau menolak.
Ayah hanya bisa mendoakanmu, dari jauh.
Maafkan ayah. Jika kau menemukan surat ini suatu hari, ketahuilah ayah selalu mencintaimu, meski dengan cara yang salah.”



Aku tak kuasa menahan tangis.
Pita merah jambu itu kugenggam erat-erat. Seolah dengan memegangnya, aku bisa memeluk ayah yang tak sempat kupeluk.

Hari itu aku pulang ke kota membawa kotak kecil itu.
Di kamar, aku duduk lama.
Bukan air mata marah yang keluar, melainkan air mata rindu.

Aku menatap pita itu. Pita yang dulu hanya kupandang dari balik etalase saat kecil, kini ada di tanganku. Dan entah mengapa, aku merasa ada ruang kosong di hatiku yang perlahan terisi.

Malam itu, aku menulis di buku harian:


“Ayah, aku sudah menemukanmu. Meski hanya dalam surat dan pita ini.
Aku sudah memaafkanmu.
Dan aku akan hidup tanpa membenci siapa pun lagi—tidak ayah, tidak ibu, tidak masa kecilku.
Karena aku percaya, cinta tetap ada, meski jalannya berliku.”



Aku menutup buku harian itu.
Lalu mengikat rambutku dengan pita merah jambu itu.
Untuk pertama kalinya, aku merasa lengkap.

Tanggerang, 20-09-2025
By Lembaran Elegi



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong

Sepecundang apa dirimu?