Rumah Tua Lidya
Rumah Tua Lidya
Rumah tua itu berdiri sunyi di ujung jalan desa. Catnya mulai mengelupas, tapi aroma kayu tua dan lantai yang berderit masih sama seperti dulu. Lidya, anak kedua dari tiga bersaudara, melangkah masuk bersama putrinya yang berumur delapan tahun.
“Ma, ini rumah Mama waktu kecil, ya?” tanya sang anak, matanya berbinar.
Lidya mengangguk, menepuk kepala putrinya. “Iya, Nak. Di sini Mama tumbuh bersama Paman dan Bibi kamu.”
Di ruang tamu, anak itu berhenti. Tatapannya jatuh pada pigura besar yang tergantung di dinding: foto kakek, nenek, dan tiga anak kecil berdiri rapat—Lidya dan kedua saudaranya.
“Yang ini Mama?” si kecil menunjuk gadis kecil di foto.
“Iya,” Lidya tersenyum. “Itu Mama, waktu seumuran kamu.”
Sambil duduk di kursi goyang peninggalan nenek, Lidya mulai bercerita.
“Dulu, tiap malam kita sering perang bantal,” kenangnya.
Suara tawa masa lalu seakan kembali memenuhi ruang sepi itu.
“Woi, jangan kena mata aku!” teriak kakak perempuannya dulu, sembari menahan bantal.
“Tangkap, tangkap!” Lidya kecil tertawa keras, melempar bantal ke adiknya.
Si bungsu protes, “Curang! Kalian berdua keroyokan!”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, nenek masuk.
“Kalian ini, sudah malam! Tidur, besok sekolah!” katanya galak, tapi ujung bibirnya sulit menahan senyum.
Putri Lidya tertawa kecil. “Lucu banget, Ma.”
Lidya melanjutkan, “Dan kalau sore, kita suka rebutan gorengan.”
Bayangan sore itu kembali: piring penuh bakwan di meja.
“Itu buat aku! Aku duluan yang lihat!” kakaknya meraih bakwan terakhir.
“Eh, jangan! Aku baru ambil satu!” Lidya kecil ikut merebut.
Si bungsu diam-diam mengambil dari dapur, tapi ketahuan nenek.
“Dasar tukang ngutil gorengan!” mereka bertiga pun pecah dalam tawa.
Lidya menghela napas, matanya berkaca-kaca. “Dan kalau kakek minta tolong beli sesuatu, kami selalu saling oper tugas.”
“Aku lagi belajar, Kek.” Kakaknya pura-pura sibuk menulis.
“Aku lagi nyapu, Kek.” Lidya kecil menahan tawa sambil hanya memegang sapu.
“Aku ngantuk, Kek.” Si bungsu malah sudah tiduran.
Akhirnya, kakek sendiri yang berjalan ke warung, sambil geleng-geleng kepala.
Lidya terdiam. Tangannya menyentuh pigura foto keluarga.
“Tapi setelah kakek dan nenek tiada, semua berubah,” ucapnya lirih.
“Kami jarang bicara. Tidak ada kabar. Tidak ada pertemuan. Rumah ini… hanya menyimpan kenangan.”
Putrinya menatap wajah ibunya yang sendu. “Mama kangen Paman dan Bibi?”
Lidya menelan ludah, lalu mengangguk pelan. “Iya. Sebenarnya kami semua rindu. Tapi entah kenapa, tidak ada yang berani bilang.”
Anaknya menatap polos. “Kalau rindu, kenapa nggak bilang saja, Ma?”
Lidya terdiam, hatinya bergetar. Kata-kata sederhana itu menusuk jauh ke dalam.
Penutup
Sore itu, matahari menyorot masuk lewat jendela, memantul di foto tua keluarga mereka. Lidya menatap lama, seolah menunggu bayangan dua sosok yang dulu selalu hadir—kakek dan nenek.
Di dalam hatinya, ia berdoa: semoga suatu hari, ia dan kedua saudaranya bisa berkumpul kembali, bukan hanya dalam kenangan, tapi juga di ruang yang sama, dengan tawa yang sama.
Untuk sekarang, yang tersisa hanyalah keheningan… dan rindu yang diam-diam saling mencari.
Tanggerang, 30-09-2025
By:Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar