Sapu Tangan Biru Lidya I
Sapu tangan biru Lidya I
Hujan mengetuk jendela kamar malam itu. Udara dingin membuat anak perempuan itu merapatkan selimutnya. Ia menoleh ke ibunya yang sedang duduk di sisi ranjang.
“Bu,” tanyanya pelan, “ayah itu seperti apa?”
Ibu tersenyum tipis. Pertanyaan itu sudah lama ia tunggu-tunggu, meski hatinya selalu bergetar tiap kali mendengarnya. Perlahan ia mengusap kepala anaknya.
“Ayahmu… orang yang pendiam,” jawab ibu. “Dia tidak banyak bicara. Bahkan saat marah, ia tidak pernah meninggikan suara.”
Anak itu mengerutkan kening. “Kalau marah, terus ayah diam saja?”
Ibu terkekeh kecil. “Tidak. Ayahmu punya caranya sendiri. Dia akan duduk di meja kerja, membuka buku catatannya, dan menulis sampai hatinya lega. Ayah percaya, kata-kata yang ditulis lebih aman daripada kata-kata yang keluar saat marah.”
Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum mengenang sesuatu.
“Aku ingat satu malam,” lanjutnya. “Ayahmu pulang dari kantor. Wajahnya lelah. Ada masalah di tempat kerja, tapi ia tetap duduk bersama kita makan malam. Setelah itu, ia tidak bicara banyak. Ia hanya mengambil buku catatan itu, menulis lama… lama sekali. Pagi harinya, ia tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia membuatkan aku teh hangat sambil berkata, ‘Hari ini kita mulai lagi dari awal.’”
Mata anak itu mulai berkaca-kaca. “Aku jadi kangen sama ayah… padahal aku nggak ingat wajahnya.”
Ibu meraih laci di sisi tempat tidur. Ia mengeluarkan sebuah buku lusuh dengan sampul cokelat. “Ini catatan ayahmu. Ibu simpan, supaya suatu hari kamu bisa membacanya.”
Anak itu membuka halaman pertama. Tulisan tangan ayahnya rapi. Pada satu halaman, ada kalimat yang membuatnya menahan napas:
> “Aku mungkin jarang berkata-kata. Tapi setiap diamku adalah doa. Setiap marahku kutulis agar kamu tidak pernah terluka. Semoga keluargaku selalu bahagia, meski suatu hari aku tak lagi di sini.”
Air mata anak itu menetes. Tapi di balik kesedihannya, ia tersenyum. Rasanya seperti baru bertemu ayahnya untuk pertama kali.
Ibu memeluknya erat. “Ayahmu mungkin diam, Nak. Tapi cintanya… selalu bersuara lewat tindakannya, dan lewat kata-kata yang ia tinggalkan.”
Hujan di luar masih turun, tapi hati anak itu hangat. Malam itu, ia tidur sambil memeluk buku catatan ayahnya.
Tanggerang, 01-09-2025
By:Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar