Sapu Tangan Biru Lidya II
Sapu tangan biru Lidya II
Suara pintu kamar terbanting keras menggema di seluruh rumah.
Lidya duduk di ujung kasurnya, wajahnya memerah, napasnya tersengal.
“Kenapa sih, Bu?! Selalu salah di mata Ibu! Aku capek diatur terus!” bentaknya sebelum mengurung diri.
Di luar kamar, ibunya masih berdiri mematung.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia duduk di sofa ruang tamu, menahan tangis yang akhirnya pecah.
"Apakah aku gagal jadi ibu?" bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Sore itu, ayah Lidya pulang.
Melihat istrinya menangis, ia duduk di sampingnya, mengelus rambutnya pelan.
“Aku… aku takut, Mas,” suara ibu bergetar.
“Takut Lidya benci sama aku. Aku cuma ingin dia jadi anak baik. Tapi kenapa rasanya aku selalu salah?”
Ayah tak langsung menjawab.
Matanya ikut basah.
Ia berdiri, berjalan ke kamar Lidya, mengetuk pintu pelan.
“Masuk,” sahut Lidya lirih.
Ayah duduk di tepi kasur, menatap wajah putrinya yang masih masam.
“Lidya,” suara ayah pelan, “Ayah cuma mau cerita.”
Lidya melirik sekilas, lalu menunduk.
Ayah mulai bicara, suaranya tenang.
“Dulu, sebelum kamu lahir, dokter bilang ibumu mungkin tidak bisa punya anak. Ibu sedih sekali, tapi tetap berdoa. Dua kali ibu keguguran. Dua kali pula ia hampir menyerah.”
Ayah menarik napas, matanya basah.
“Sampai akhirnya kamu lahir. Hari itu, senyum ibu adalah senyum paling bahagia yang pernah ayah lihat. Ibu memelukmu, menangis sambil bilang: ‘Terima kasih, Tuhan, Kau kembalikan anakku.’”
Lidya mulai terdiam, jantungnya berdegup kencang.
Ayah menghela napas panjang.
“Ayah dan Ibu bukan orang tua yang sempurna, Nak. Tapi kami mencintaimu, lebih dari apa pun. Kami mungkin tidak bisa memenuhi semua keinginanmu, tapi jangan pernah kubur mimpi dan harapanmu. Itu doa terbesar kami.”
Suara ayah bergetar.
Tanpa sadar, air matanya jatuh.
Lidya merasakan dadanya sesak.
Pelan-pelan ia menangis, lalu meraih tubuh ayah dan memeluknya erat.
“Ayah…” suaranya patah.
Ayah mengelus kepala Lidya
“Ayo, Nak. Minta maaf pada Ibu. Hatinya sangat terluka.”
Dengan langkah berat, Lidya keluar kamar.
Ibunya masih duduk di sofa, mata sembab.
“Ibu…” suara Lidya lirih, hampir tak terdengar.
“Aku… aku minta maaf. Aku sayang Ibu.”
Ibu langsung memeluknya erat.
Tangis keduanya pecah.
Dari pintu, ayah tersenyum haru melihat mereka berpelukan.
Rumah itu kembali terasa hangat.
Dan Lidya tahu, meski tak selalu sempurna, inilah tempatnya pulang.
Tanggerang, 09-15-2025
By Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar