Sapu Tangan Biru Lidya III
Sapu tangan biru lidya III
Pagi itu langit biru membentang tenang. Jalan setapak menuju pemakaman masih basah oleh embun. Seorang anak perempuan kecil menggenggam tangan ayahnya. Langkah mereka pelan, seakan tak ingin mengusik ketenangan di sekitar.
Sesampainya di pusara, ayah duduk bersila, menunduk lama. Bibirnya bergetar melafalkan doa, lalu hening. Anak itu memperhatikan wajah ayahnya yang basah oleh air mata.
“Yah…” suara anak itu pelan, ragu.
“Kenapa kita sering ke sini? Kenapa ayah selalu nangis?”
Ayah menoleh, mengusap pipinya cepat-cepat.
“Ayah kangen ibu, ya?
Ayah terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada batu nisan itu. Nafasnya panjang, berat, seolah ada yang ditahan terlalu lama.
“Nak…” ayah memulai.
"Dulu hidup Ayah sering disakiti dan dikhianati teman dan dikhianati pasangan. Lima kali ayah bertunangan, lima-limanya gagal. Ada yang selingkuh, ada yang orang tuanya nggak merestui. Sampai akhirnya ayah nggak percaya lagi sama cinta. Ayah pikir… cinta itu cuma bikin orang sakit.”
Anak itu menatap ayahnya dengan mata bulat.
“Terus… ibu datang?”
Ayah tersenyum samar.
“Iya. Ibumu datang dengan kelembutannya. Dia bikin ayah percaya lagi. Dia nggak hanya bikin ayah jatuh cinta, tapi juga ngajarin ayah gimana caranya mencintai.”
Mata ayah menerawang, seolah kembali pada masa itu.
“Ayah dulu nggak pintar urusan rumah. Waktu ayah coba bantu ibu nyuci, malah baju kesayangan ibu jadi rusak. Ibumu cuma ketawa. Ayah coba nyapu sama ngepel, rumah malah jadi licin dan tambah kotor. Ayah coba masak, malah gosong. Tapi ibumu nggak marah. Dia cuma bilang, ‘Nggak apa-apa, Mas. Pelan-pelan aja, nanti aku ajarin.’”
Ayah terkekeh kecil, lalu melanjutkan.
“Bahkan saat keluarganya merendahkan ayah karena gaji ayah kecil, ibumu selalu membela. Dia bilang:
‘Memang belum banyak, tapi dia sudah berusaha maksimal. Aku bangga sama kerja kerasnya.’
Dan dia juga bilang:
‘Iya, tapi dia rajin banget bantuin aku di rumah. Itu bikin aku bahagia.’
Nak, semua yang ayah jadi sekarang… itu karena ibumu.”
Suara ayah mulai pecah.
“Ibumu itu… fisiknya lemah, tapi hatinya kuat. Saat kamu masih dalam kandungan dan ibumu sakit parah, dokter bilang cuma bisa selamatkan salah satu… ibu atau kamu.”
Anak itu menahan nafas.
“Terus ibu pilih aku?”
Ayah mengangguk.
“Malam itu ibumu bilang ke ayah:
‘Selamatkan anak kita. Aku tahu kamu pasti kacau kalau sendirian. Ajarkan dia, Mas… ajarkan dia bahwa kamu adalah aku. Ajarkan dia cinta yang kita punya.’
Dia juga bilang,
‘Aku tahu kamu, Mas. Aku tahu semua yang kamu simpan dalam dirimu. Tolong rawat anak kita, berikan dia cintaku.’”
Air mata ayah jatuh.
Anak itu mendekat, memeluk ayahnya erat.
“Aku janji, Yah… aku akan jadi anak yang ibu banggakan. Kita jaga cinta ibu sama-sama.”
Ayah mengangguk, memeluk anaknya erat. Di bawah langit biru dan di depan pusara yang sepi, mereka duduk lama. Seakan ada seseorang yang ikut duduk di antara mereka—seseorang yang tetap hidup dalam hati mereka berdua.
Tanggerang, 17-09-2025
By: Lembaran Elegi
Komentar
Posting Komentar