FORGED IN THE DARK #1

Bab 1 – The Serpent Leaves 

Di bawah jembatan tua, udara malam terasa berat, bau basah beton dan sungai bercampur. Silver duduk di trotoar, rokok tergenggam di tangan, matanya menatap permukaan air yang berkilau tipis oleh cahaya lampu jalan. Ia menikmati sepi—bukan untuk kabur, tapi untuk mendengar detak sendiri yang terlalu lama tertutup suara dunia.
Umur 25 tahun, tapi beban hidup terasa seperti menua seribu hari dalam satu malam. Ia menarik napas panjang, menatap asap rokok yang naik perlahan. Aku harus tahu kemana arahku… tanpa bergantung pada siapa pun. Tanpa menunggu penilaian, tanpa membandingkan diriku dengan orang lain…
Langkah kaki terdengar, ringan tapi pasti, bergema di beton basah. Silver menoleh, dan dari bayangan muncul Gold, 21 tahun, rokok di tangan, energi yang dibawanya panas dan tak bisa diam, seperti bara yang tak pernah padam.
“Well, brother… masih menikmati sepi?” sapanya ringan, tapi penuh nuansa, seolah menantang sekaligus mengundang.
Silver menoleh, separuh tersenyum, mata tetap fokus pada air. “Selalu. Dan sepertinya aku menikmatinya.”
Gold duduk di sampingnya, menyalakan rokok, mengisap napas panjang, lalu menghembuskan asap ke udara malam. “Aku nggak bisa sendiri, brother. Diam… itu bukan untukku. Aku selalu merasa perlu bergerak, membuat sesuatu terjadi, meski dunia tak menunggu.”
Silver menatap api kecil di ujung rokok Gold. “Berarti kita berdua sama-sama… mencari hal yang tidak bisa ditemukan di luar diri kita sendiri, ya?”
Gold tersenyum tipis, mata berkilat, tapi ada kerutan di dahi. “Mungkin. Tapi aku nggak sabar menunggu. Dunia nggak menunggu orang yang tenang seperti kau, Silver.”
Obrolan ringan itu mengalir—tentang malam, suara air, gemericik hujan tipis di beberapa sudut jembatan, dan rokok yang mengepul. Tiap kata, tiap tarikan napas, terasa alami, tapi sarat makna. Tidak ada topik berat, hanya ritme percakapan yang membangun kedekatan, lalu perlahan menyingkap kedalaman mereka.
Silver menarik napas panjang, menatap ke sungai. “Kadang aku mikir… arah hidupku. Aku ingin tahu aku bisa tetap berdiri sendiri, tanpa harus menunggu restu atau dibandingkan. Tapi aku… aku takut salah langkah.”
Gold mencondongkan tubuh, menatap wajah Silver yang serius tapi damai. “Aku juga mikir begitu, brother. Tapi aku nggak bisa diam. Aku harus menghadapi dunia, bikin keributan kalau perlu. Kalau aku menunggu… aku hilang sebelum sempat hidup.”
Silver tersenyum tipis, tapi matanya basah sedikit di sudut. “Aku lari… bukan karena takut. Aku capek. Capek dibandingkan, capek dinilai… Aku memilih sepi supaya aku tetap waras, supaya aku bisa memikirkan apa yang benar-benar ingin aku lakukan.”
Gold menepuk abu rokoknya, suara ringan tapi bergetar. “Dan aku… aku tidak bisa lari. Sunyi itu bukan untukku. Aku harus… mencari jalanku sendiri, meski itu berarti menatap semua kekacauan dunia.”
Dua anak broken home itu duduk berdampingan, tapi jarak mereka terasa tegas—bukan secara fisik, tapi oleh luka dan cara masing-masing menyalurkan energi. Gold membawa api, Silver membawa air. Gold bergerak, Silver menunggu. Dua cara berbeda, tapi ada sesuatu yang sama: keduanya ingin tahu apa yang tersisa dari mereka sendiri di dunia yang keras ini.
Silver mengisap rokok terakhirnya, menatap api kecil di ujung filter. “Jadi… kita punya harapan masing-masing. Tapi aku nggak tahu apakah jalannya akan sama, atau tetap berbeda. Aku takut… jalanku bisa jadi salah.”
Gold tersenyum samar, rokoknya hampir habis. “Kalau berbeda… mungkin itu berarti kita harus belajar sendiri dulu, sebelum bisa mengerti satu sama lain. Tapi aku… aku ingin tahu caramu tetap berdiri di tengah semua itu.”
Mereka duduk diam, suara air dan angin menutup semua kata-kata. Tidak ada keputusan, tidak ada penyelesaian. Hanya dua anak broken home yang sedang mencoba memahami diri, dunia, dan satu sama lain.
Dan malam menutup diri perlahan, meninggalkan mereka dengan pertanyaan yang menggantung di udara malam:
Apakah mereka akan menemukan jalan yang sama… atau tetap berjalan sendiri, terjebak antara api dan air, luka dan harapan yang belum jelas?
Asap rokok terakhir menghilang ke udara gelap. Lorong tetap sepi, tapi di antara mereka, percikan halus—tentang harapan, tentang diri, tentang brotherhood—masih tergantung, tak terjawab, menunggu langkah selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Greetings..🤗☕

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong

Sepecundang apa dirimu?