Postingan

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong

Enam bulan aku menganggur di kota besar. Gaji terakhir telah lama habis, BPJS pun sudah kucairkan. Satu per satu tabungan lenyap, disusul pinjam ke sana-sini, hingga akhirnya pinjaman online menjadi pilihan terakhir—bukan untuk hidup layak, tapi sekadar bertahan. Setelah enam bulan, semuanya benar-benar selesai. Kost habis. Uang habis. Aku meninggalkan kamar sempit itu dan mulai hidup di pinggir jalan. Hari-hariku diisi dengan mencari sisa makanan dari tong sampah, dan mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk diisap kembali. Bukan karena kebiasaan, tapi karena keadaan. Tak jarang saat aku tertidur di emperan jalan, orang-orang menghampiri. Ada yang minta tolong karena lapar. Ada yang minta ongkos pulang kampung. Ada juga yang sekadar ingin makan. Setiap cerita menyentuh hatiku. Namun kenyataannya pahit—posisi kami sama. Aku tak punya apa-apa selain rasa iba. Malam hari adalah ujian tersulit. Emperan jalan menjadi wilayah serigala malam—mereka yang meminta rokok dan makanan dengan dalih...

Lidya dan harga sebuah "Tidak"

Lidya dan Harga Sebuah ‘Tidak’ Usia Lidya baru dua puluh lima. Tapi wajahnya tampak lebih tua dari itu — bukan karena keriput, melainkan karena lelah yang lama disembunyikan. Ia hidup dengan senyum yang selalu siap dipakai, dengan kata “iya” yang lebih cepat keluar dari bibirnya dibanding pikirannya sendiri. Sejak kecil, Lidya terbiasa untuk tidak membuat masalah. Ayahnya percaya kesempurnaan adalah ukuran cinta; ibunya menuntut kepatuhan seolah itu kewajiban moral. “Nilai sembilan itu bagus, tapi kenapa bukan sepuluh?” “Jangan bikin malu keluarga, Lidya.” Kata-kata itu tumbuh jadi hukum tak tertulis di dalam dirinya: aku harus baik agar dicintai. Dan begitulah, ia tumbuh jadi anak yang selalu bisa diandalkan — juga, anak yang tidak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri. Di kantor desain tempatnya bekerja, semua orang menyukai Lidya. “Lidya, bantu revisi punya aku ya?” “Lid, kamu bisa lembur malam ini, kan?” Ia mengangguk tanpa berpikir, meski matanya perih karena kurang tidur...

Gunting, Sisir dan Cerita Ayah Lidya

Gunting, Sisir, dan Cerita Ayah Lidya Siang itu matahari terasa dekat sekali dengan kepala. Udara panas menelusup sampai ke sela napas, tapi ayah justru menunda waktu makannya. Katanya, ia ingin memangkas rambut di sebuah lorong kecil di pinggiran kota—lorong yang penuh dengan tukang pangkas rambut tua. Aku, Lidya, saat itu berusia sembilan tahun. Dalam perjalanan menuju ke sana, ayah sempat berhenti di kios buku dan membelikanku sebuah buku kecil bersampul cokelat serta sebuah pena biru. “Tulis apa saja yang kamu dengar,” katanya lembut, “selama kamu merasa itu penting.” Lorong itu ternyata sempit dan terbuka, tanpa pendingin udara, hanya kipas angin kecil yang berputar malas di setiap sudut. Namun, wajah-wajah para pemangkas di sana begitu ramah dan menyejukkan. Rambut mereka rata-rata sudah memutih, kulitnya legam oleh matahari, dan di meja kerjanya hanya ada dua benda: gunting dan sisir. Mereka bekerja perlahan, penuh ketenangan, seolah setiap helaian rambut adalah bagian dari doa ...

Malam Panjang Lidya

Malam panjang Lidya Lidya menutup pintu kost dengan pundak, lalu menjatuhkan diri di kasur tipis yang sudah mengeluarkan bunyi berderit. Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam. Tubuhnya pegal, matanya berat, pikirannya kosong. Usianya baru 24, tapi setiap hari terasa seperti beban panjang yang tak selesai-selesai. Seharusnya, ia masih penuh tenaga. Seharusnya, umur segini hidupnya sedang mekar. Tapi yang ada hanyalah rutinitas: bangun, kerja, pulang, tidur. Mengulang besok, lagi dan lagi. Ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup Sahabat SMA. Sebuah foto baru muncul. Tiga orang teman lamanya duduk di kafe, wajah mereka cerah. Caption ringan: “Next time full team yaa! Kangen rame-rame kayak dulu.” Lidya menatap layar itu lama. Jempolnya sudah di atas keyboard, tapi tak ada kata yang bisa keluar. --- Kenangan SMA tiba-tiba menyalak. Ia ingat dulu, circle itu paling riuh di kelas. Nongkrong di warung bakso depan sekolah, berbagi mimpi besar: jadi arsitek, pengusaha, penulis terkenal. ...

Rumah Tua Lidya

Rumah Tua Lidya Rumah tua itu berdiri sunyi di ujung jalan desa. Catnya mulai mengelupas, tapi aroma kayu tua dan lantai yang berderit masih sama seperti dulu. Lidya, anak kedua dari tiga bersaudara, melangkah masuk bersama putrinya yang berumur delapan tahun. “Ma, ini rumah Mama waktu kecil, ya?” tanya sang anak, matanya berbinar. Lidya mengangguk, menepuk kepala putrinya. “Iya, Nak. Di sini Mama tumbuh bersama Paman dan Bibi kamu.” Di ruang tamu, anak itu berhenti. Tatapannya jatuh pada pigura besar yang tergantung di dinding: foto kakek, nenek, dan tiga anak kecil berdiri rapat—Lidya dan kedua saudaranya. “Yang ini Mama?” si kecil menunjuk gadis kecil di foto. “Iya,” Lidya tersenyum. “Itu Mama, waktu seumuran kamu.” Sambil duduk di kursi goyang peninggalan nenek, Lidya mulai bercerita. “Dulu, tiap malam kita sering perang bantal,” kenangnya. Suara tawa masa lalu seakan kembali memenuhi ruang sepi itu. “Woi, jangan kena mata aku!” teriak kakak perempuannya dulu, sembari menahan banta...

Lidya dan Layla

Lidya dan Layla Langit Jakarta malam itu mendung. Hujan gerimis membasahi trotoar ketika Lidya pulang kerja dengan langkah gontai. Suara atasannya masih terngiang-ngiang di kepala. Atasan: “Lidya, target kamu telat lagi! Bisa nggak kamu kerja lebih cepat?” Lidya: (menunduk) “Baik, Pak.” Di depan kos, seekor kucing betina berbulu putih dengan belang coklat-abu di kepala dan ekor duduk menunggu. Matanya bulat, kuning, seolah ikut memandang lelahnya. Lidya: (tersenyum lelah) “Layla… kamu nunggu aku lagi ya?” Layla: “Meong.” Lidya: “Hari ini berat banget, Lay. Rasanya semua orang nuntut aku jadi sempurna.” Layla menggesekkan kepalanya ke kaki Lidya, bulunya yang lembut memberi rasa hangat. Malam itu, Lidya makan mie instan sambil mengelus Layla dan menangis pelan. Hari berikutnya, dunia Lidya benar-benar runtuh. Sebuah pesan masuk di ponselnya. “Lid… maaf. Aku jatuh cinta sama orang lain. Kita sampai di sini aja.” Lidya duduk di halte, hujan semakin deras. Tangannya gemetar, air mata berca...

Album Foto Lidya

Album foto lidya Malam itu, aroma sayur bening dan ikan goreng memenuhi ruang makan. Lampu kuning menggantung di atas meja, menciptakan suasana hangat. Makan malam selalu menjadi ritual wajib bagi ayah dan Lidya. Di sinilah mereka melepas lelah, saling bercerita tentang hari yang panjang. Namun, malam ini Lidya tak sepenuhnya fokus. Pandangannya melayang pada foto keluarga yang tergantung di ruang tamu. Foto itu diambil ketika Lidya masih balita, di hari ulang tahunnya yang ketiga. "Yah," Lidya akhirnya membuka suara, suaranya pelan. Ayah yang sedang merapikan piring menoleh. "Hm?" "Aku mirip ibu waktu kecil, nggak?" Ayah terdiam sejenak. Bibirnya tersenyum samar. "Ayah nggak tahu persis, tapi ayah punya album foto ibu. Mau lihat?" Lidya mengangguk antusias. Ayah bangkit dan mengambil album foto dari lemari kayu di ruang tamu. Debu tipis menempel di sampulnya. "Ini foto ibu waktu SMA," ujar ayah sambil menunjuk gadis berambut kuncir kud...