Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong
Enam bulan aku menganggur di kota besar. Gaji terakhir telah lama habis, BPJS pun sudah kucairkan. Satu per satu tabungan lenyap, disusul pinjam ke sana-sini, hingga akhirnya pinjaman online menjadi pilihan terakhir—bukan untuk hidup layak, tapi sekadar bertahan. Setelah enam bulan, semuanya benar-benar selesai. Kost habis. Uang habis. Aku meninggalkan kamar sempit itu dan mulai hidup di pinggir jalan. Hari-hariku diisi dengan mencari sisa makanan dari tong sampah, dan mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk diisap kembali. Bukan karena kebiasaan, tapi karena keadaan. Tak jarang saat aku tertidur di emperan jalan, orang-orang menghampiri. Ada yang minta tolong karena lapar. Ada yang minta ongkos pulang kampung. Ada juga yang sekadar ingin makan. Setiap cerita menyentuh hatiku. Namun kenyataannya pahit—posisi kami sama. Aku tak punya apa-apa selain rasa iba. Malam hari adalah ujian tersulit. Emperan jalan menjadi wilayah serigala malam—mereka yang meminta rokok dan makanan dengan dalih...