Postingan

Album Foto Lidya

Album foto lidya Malam itu, aroma sayur bening dan ikan goreng memenuhi ruang makan. Lampu kuning menggantung di atas meja, menciptakan suasana hangat. Makan malam selalu menjadi ritual wajib bagi ayah dan Lidya. Di sinilah mereka melepas lelah, saling bercerita tentang hari yang panjang. Namun, malam ini Lidya tak sepenuhnya fokus. Pandangannya melayang pada foto keluarga yang tergantung di ruang tamu. Foto itu diambil ketika Lidya masih balita, di hari ulang tahunnya yang ketiga. "Yah," Lidya akhirnya membuka suara, suaranya pelan. Ayah yang sedang merapikan piring menoleh. "Hm?" "Aku mirip ibu waktu kecil, nggak?" Ayah terdiam sejenak. Bibirnya tersenyum samar. "Ayah nggak tahu persis, tapi ayah punya album foto ibu. Mau lihat?" Lidya mengangguk antusias. Ayah bangkit dan mengambil album foto dari lemari kayu di ruang tamu. Debu tipis menempel di sampulnya. "Ini foto ibu waktu SMA," ujar ayah sambil menunjuk gadis berambut kuncir kud...

Meja Makan Lidya

“Meja Makan Lidya ” Hari itu, Lidya dan kedua saudaranya berlari pulang dari sekolah. Masing-masing menggenggam rapor dengan jantung berdebar. “Aku ranking dua!” seru Lidya bangga, menaruh rapornya di meja ruang tamu. Kakaknya langsung menyambar, “Aku ranking satu lagi. Ibu pasti seneng.” Si bungsu ikut menyelip, “Tapi aku juara lomba menggambar, Bu guru bilang gambarku dipajang di aula!” Mereka tak sadar, suara mereka saling bertumpuk, seakan siapa yang paling keras akan mendapat perhatian ibu lebih dulu. Ibu muncul dari dapur. Matanya berputar memperhatikan tiga anaknya, sebelum akhirnya mengambil rapor kakak. “Bagus sekali! Ini baru anak Ibu!” katanya sambil tersenyum lebar. Tatapannya kemudian berpindah pada rapor Lidya. “Kamu harus bisa seperti kakakmu, Nak. Nilaimu bagus, tapi lihat ini… masih kalah di Matematika.” Lidya diam. Matanya panas. Malam harinya, meja makan menjadi panggung perbandingan. Ayah ikut menimpali, memuji yang nilainya tertinggi, memberi wejangan pada yang lai...

Pita Merah Jambu Lidya

Pita Merah Jambu Lidya Aku masih menyimpan pita merah jambu itu. Pita yang kusimpan di dalam kotak kayu kecil, di sudut lemari yang jarang dibuka orang. Benda itu menjadi satu-satunya hadiah pertama—dan terakhir—yang pernah kuterima dari ayahku. Aku lahir dari keluarga yang tidak sempurna. Ayah dan ibu menikah terlalu muda, ketika mereka bahkan belum tahu bagaimana menjaga diri, apalagi rumah tangga. Mereka sering bertengkar, berdebat soal siapa yang paling lelah, siapa yang paling benar. Hingga saat aku belum genap berusia satu tahun, rumah itu pecah. Ayah pergi, ibu memilih bertahan hidup sendirian bersamaku. Aku tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahku. Tak ada foto, tak ada nomor telepon, tak ada alamat. Bagiku, ayah hanya nama yang samar-samar disebut ketika ibu sedang marah atau sedang menangis. Masa kecilku tidak mudah. Setiap kali teman-temanku merayakan ulang tahun di sekolah, aku hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati, ada rasa iri. Tapi aku tahu ibu pulang kerja selalu lelah...

Sapu Tangan Biru Lidya III

Sapu tangan biru lidya III Pagi itu langit biru membentang tenang. Jalan setapak menuju pemakaman masih basah oleh embun. Seorang anak perempuan kecil menggenggam tangan ayahnya. Langkah mereka pelan, seakan tak ingin mengusik ketenangan di sekitar. Sesampainya di pusara, ayah duduk bersila, menunduk lama. Bibirnya bergetar melafalkan doa, lalu hening. Anak itu memperhatikan wajah ayahnya yang basah oleh air mata. “Yah…” suara anak itu pelan, ragu. “Kenapa kita sering ke sini? Kenapa ayah selalu nangis?” Ayah menoleh, mengusap pipinya cepat-cepat. “Ayah kangen ibu, ya?  Ayah terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada batu nisan itu. Nafasnya panjang, berat, seolah ada yang ditahan terlalu lama. “Nak…” ayah memulai. "Dulu hidup Ayah sering disakiti dan dikhianati teman dan dikhianati pasangan. Lima kali ayah bertunangan, lima-limanya gagal. Ada yang selingkuh, ada yang orang tuanya nggak merestui. Sampai akhirnya ayah nggak percaya lagi sama cinta. Ayah pikir… cinta itu cuma bikin or...

Sapu Tangan Biru Lidya II

Sapu tangan biru Lidya II Suara pintu kamar terbanting keras menggema di seluruh rumah. Lidya duduk di ujung kasurnya, wajahnya memerah, napasnya tersengal. “Kenapa sih, Bu?! Selalu salah di mata Ibu! Aku capek diatur terus!” bentaknya sebelum mengurung diri. Di luar kamar, ibunya masih berdiri mematung. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia duduk di sofa ruang tamu, menahan tangis yang akhirnya pecah. "Apakah aku gagal jadi ibu?" bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Sore itu, ayah Lidya pulang. Melihat istrinya menangis, ia duduk di sampingnya, mengelus rambutnya pelan. “Aku… aku takut, Mas,” suara ibu bergetar. “Takut Lidya benci sama aku. Aku cuma ingin dia jadi anak baik. Tapi kenapa rasanya aku selalu salah?” Ayah tak langsung menjawab. Matanya ikut basah. Ia berdiri, berjalan ke kamar Lidya, mengetuk pintu pelan. “Masuk,” sahut Lidya lirih. Ayah duduk di tepi kasur, menatap wajah putrinya yang masih masam. “Lidya,” suara ayah pelan, “Ayah cuma mau cerita.” Lidya melirik sekila...

Sapu Tangan Biru Lidya I

Sapu tangan biru Lidya I Hujan mengetuk jendela kamar malam itu. Udara dingin membuat anak perempuan itu merapatkan selimutnya. Ia menoleh ke ibunya yang sedang duduk di sisi ranjang. “Bu,” tanyanya pelan, “ayah itu seperti apa?” Ibu tersenyum tipis. Pertanyaan itu sudah lama ia tunggu-tunggu, meski hatinya selalu bergetar tiap kali mendengarnya. Perlahan ia mengusap kepala anaknya. “Ayahmu… orang yang pendiam,” jawab ibu. “Dia tidak banyak bicara. Bahkan saat marah, ia tidak pernah meninggikan suara.” Anak itu mengerutkan kening. “Kalau marah, terus ayah diam saja?” Ibu terkekeh kecil. “Tidak. Ayahmu punya caranya sendiri. Dia akan duduk di meja kerja, membuka buku catatannya, dan menulis sampai hatinya lega. Ayah percaya, kata-kata yang ditulis lebih aman daripada kata-kata yang keluar saat marah.” Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum mengenang sesuatu. “Aku ingat satu malam,” lanjutnya. “Ayahmu pulang dari kantor. Wajahnya lelah. Ada masalah di tempat kerja, tapi ia tetap duduk bersa...

Sepecundang apa dirimu?

Dikala teman teman seusiaku sudah memiliki keluarga atau memiliki kerja yang mapan bahkan ada yang sudah mendapatkan mimpinya, sedangkan diriku masih berjalan dijalanan membawa kertas lamaran kerja kesana kemari. Sepanjang jalan sembari menunduk, aku berpikir apa yang salah dari diriku? Apa kesempatan yang sebenarnya telah ku sia-siakan? Apa perubahan yang harus aku lakukan? Karena lelah, akhirnya aku singgah diwarung kopi, akan tetapi riuh dikepalaku masih memberikan jutaan pertanyaan perihal apa dan kenapa? Apakah nasibku yang memang selalu tidak beruntung? Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Apakah mimpiku terlalu tinggi, sehingga mustahil untuk digapai? Atau ketakutan-ketakutanku yang selama ini menghalangiku untuk maju? Apa yang sebenarnya aku cari? Kala semua orang tanpa ragu merendahkanku, aku hanya bisa diam dan mengiyakan apa yang mereka katakan, kala semua orang menghina diriku, aku hanya bisa diam dan mengiyakan lagi apa yang telah mereka lakukan, bahkan disaat semua menj...