Lidya dan harga sebuah "Tidak"
Lidya dan Harga Sebuah ‘Tidak’ Usia Lidya baru dua puluh lima. Tapi wajahnya tampak lebih tua dari itu — bukan karena keriput, melainkan karena lelah yang lama disembunyikan. Ia hidup dengan senyum yang selalu siap dipakai, dengan kata “iya” yang lebih cepat keluar dari bibirnya dibanding pikirannya sendiri. Sejak kecil, Lidya terbiasa untuk tidak membuat masalah. Ayahnya percaya kesempurnaan adalah ukuran cinta; ibunya menuntut kepatuhan seolah itu kewajiban moral. “Nilai sembilan itu bagus, tapi kenapa bukan sepuluh?” “Jangan bikin malu keluarga, Lidya.” Kata-kata itu tumbuh jadi hukum tak tertulis di dalam dirinya: aku harus baik agar dicintai. Dan begitulah, ia tumbuh jadi anak yang selalu bisa diandalkan — juga, anak yang tidak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri. Di kantor desain tempatnya bekerja, semua orang menyukai Lidya. “Lidya, bantu revisi punya aku ya?” “Lid, kamu bisa lembur malam ini, kan?” Ia mengangguk tanpa berpikir, meski matanya perih karena kurang tidur...