Postingan

Jalan Pulang

Nadya berusia tiga puluh tahun ketika ia menyadari satu hal yang paling menakutkan dalam hidupnya: ia tak pernah benar-benar pulang, meski tubuhnya selalu berada di rumah. Rumah itu berdiri di gang sempit Jakarta Barat, dengan cat dinding yang mulai mengelupas dan suara jam dinding yang berdetak lebih keras setiap malam. Di sanalah Nadya tumbuh—di antara doa ibu yang panjang dan harapan ayah yang tak pernah diucapkan, tapi selalu terasa menekan dada. Sejak kecil, mimpi Nadya sederhana: ia ingin menulis. Kata-kata adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh. Namun bagi ayahnya, mimpi harus punya bentuk yang jelas—seragam kantor, gaji tetap, masa depan yang “aman”. Bagi ibunya, mimpi adalah pengorbanan: menahan keinginan demi keluarga, demi anak, demi ketenangan rumah. Tak ada yang benar-benar salah. Tapi tak ada yang benar-benar saling mendengar. Setiap kali Nadya mencoba bercerita tentang apa yang ia inginkan, kalimatnya selalu patah di tengah jalan. Ayahnya menanggapi dengan nas...

Langkah yang Tidak Pernah Pulang Kosong

Enam bulan aku menganggur di kota besar. Gaji terakhir telah lama habis, BPJS pun sudah kucairkan. Satu per satu tabungan lenyap, disusul pinjam ke sana-sini, hingga akhirnya pinjaman online menjadi pilihan terakhir—bukan untuk hidup layak, tapi sekadar bertahan. Setelah enam bulan, semuanya benar-benar selesai. Kost habis. Uang habis. Aku meninggalkan kamar sempit itu dan mulai hidup di pinggir jalan. Hari-hariku diisi dengan mencari sisa makanan dari tong sampah, dan mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk diisap kembali. Bukan karena kebiasaan, tapi karena keadaan. Tak jarang saat aku tertidur di emperan jalan, orang-orang menghampiri. Ada yang minta tolong karena lapar. Ada yang minta ongkos pulang kampung. Ada juga yang sekadar ingin makan. Setiap cerita menyentuh hatiku. Namun kenyataannya pahit—posisi kami sama. Aku tak punya apa-apa selain rasa iba. Malam hari adalah ujian tersulit. Emperan jalan menjadi wilayah serigala malam—mereka yang meminta rokok dan makanan dengan dalih...

Lidya dan harga sebuah "Tidak"

Lidya dan Harga Sebuah ‘Tidak’ Usia Lidya baru dua puluh lima. Tapi wajahnya tampak lebih tua dari itu — bukan karena keriput, melainkan karena lelah yang lama disembunyikan. Ia hidup dengan senyum yang selalu siap dipakai, dengan kata “iya” yang lebih cepat keluar dari bibirnya dibanding pikirannya sendiri. Sejak kecil, Lidya terbiasa untuk tidak membuat masalah. Ayahnya percaya kesempurnaan adalah ukuran cinta; ibunya menuntut kepatuhan seolah itu kewajiban moral. “Nilai sembilan itu bagus, tapi kenapa bukan sepuluh?” “Jangan bikin malu keluarga, Lidya.” Kata-kata itu tumbuh jadi hukum tak tertulis di dalam dirinya: aku harus baik agar dicintai. Dan begitulah, ia tumbuh jadi anak yang selalu bisa diandalkan — juga, anak yang tidak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri. Di kantor desain tempatnya bekerja, semua orang menyukai Lidya. “Lidya, bantu revisi punya aku ya?” “Lid, kamu bisa lembur malam ini, kan?” Ia mengangguk tanpa berpikir, meski matanya perih karena kurang tidur...

Gunting, Sisir dan Cerita Ayah Lidya

Gunting, Sisir, dan Cerita Ayah Lidya Siang itu matahari terasa dekat sekali dengan kepala. Udara panas menelusup sampai ke sela napas, tapi ayah justru menunda waktu makannya. Katanya, ia ingin memangkas rambut di sebuah lorong kecil di pinggiran kota—lorong yang penuh dengan tukang pangkas rambut tua. Aku, Lidya, saat itu berusia sembilan tahun. Dalam perjalanan menuju ke sana, ayah sempat berhenti di kios buku dan membelikanku sebuah buku kecil bersampul cokelat serta sebuah pena biru. “Tulis apa saja yang kamu dengar,” katanya lembut, “selama kamu merasa itu penting.” Lorong itu ternyata sempit dan terbuka, tanpa pendingin udara, hanya kipas angin kecil yang berputar malas di setiap sudut. Namun, wajah-wajah para pemangkas di sana begitu ramah dan menyejukkan. Rambut mereka rata-rata sudah memutih, kulitnya legam oleh matahari, dan di meja kerjanya hanya ada dua benda: gunting dan sisir. Mereka bekerja perlahan, penuh ketenangan, seolah setiap helaian rambut adalah bagian dari doa ...

Malam Panjang Lidya

Malam panjang Lidya Lidya menutup pintu kost dengan pundak, lalu menjatuhkan diri di kasur tipis yang sudah mengeluarkan bunyi berderit. Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam. Tubuhnya pegal, matanya berat, pikirannya kosong. Usianya baru 24, tapi setiap hari terasa seperti beban panjang yang tak selesai-selesai. Seharusnya, ia masih penuh tenaga. Seharusnya, umur segini hidupnya sedang mekar. Tapi yang ada hanyalah rutinitas: bangun, kerja, pulang, tidur. Mengulang besok, lagi dan lagi. Ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup Sahabat SMA. Sebuah foto baru muncul. Tiga orang teman lamanya duduk di kafe, wajah mereka cerah. Caption ringan: “Next time full team yaa! Kangen rame-rame kayak dulu.” Lidya menatap layar itu lama. Jempolnya sudah di atas keyboard, tapi tak ada kata yang bisa keluar. --- Kenangan SMA tiba-tiba menyalak. Ia ingat dulu, circle itu paling riuh di kelas. Nongkrong di warung bakso depan sekolah, berbagi mimpi besar: jadi arsitek, pengusaha, penulis terkenal. ...

Rumah Tua Lidya

Rumah Tua Lidya Rumah tua itu berdiri sunyi di ujung jalan desa. Catnya mulai mengelupas, tapi aroma kayu tua dan lantai yang berderit masih sama seperti dulu. Lidya, anak kedua dari tiga bersaudara, melangkah masuk bersama putrinya yang berumur delapan tahun. “Ma, ini rumah Mama waktu kecil, ya?” tanya sang anak, matanya berbinar. Lidya mengangguk, menepuk kepala putrinya. “Iya, Nak. Di sini Mama tumbuh bersama Paman dan Bibi kamu.” Di ruang tamu, anak itu berhenti. Tatapannya jatuh pada pigura besar yang tergantung di dinding: foto kakek, nenek, dan tiga anak kecil berdiri rapat—Lidya dan kedua saudaranya. “Yang ini Mama?” si kecil menunjuk gadis kecil di foto. “Iya,” Lidya tersenyum. “Itu Mama, waktu seumuran kamu.” Sambil duduk di kursi goyang peninggalan nenek, Lidya mulai bercerita. “Dulu, tiap malam kita sering perang bantal,” kenangnya. Suara tawa masa lalu seakan kembali memenuhi ruang sepi itu. “Woi, jangan kena mata aku!” teriak kakak perempuannya dulu, sembari menahan banta...

Lidya dan Layla

Lidya dan Layla Langit Jakarta malam itu mendung. Hujan gerimis membasahi trotoar ketika Lidya pulang kerja dengan langkah gontai. Suara atasannya masih terngiang-ngiang di kepala. Atasan: “Lidya, target kamu telat lagi! Bisa nggak kamu kerja lebih cepat?” Lidya: (menunduk) “Baik, Pak.” Di depan kos, seekor kucing betina berbulu putih dengan belang coklat-abu di kepala dan ekor duduk menunggu. Matanya bulat, kuning, seolah ikut memandang lelahnya. Lidya: (tersenyum lelah) “Layla… kamu nunggu aku lagi ya?” Layla: “Meong.” Lidya: “Hari ini berat banget, Lay. Rasanya semua orang nuntut aku jadi sempurna.” Layla menggesekkan kepalanya ke kaki Lidya, bulunya yang lembut memberi rasa hangat. Malam itu, Lidya makan mie instan sambil mengelus Layla dan menangis pelan. Hari berikutnya, dunia Lidya benar-benar runtuh. Sebuah pesan masuk di ponselnya. “Lid… maaf. Aku jatuh cinta sama orang lain. Kita sampai di sini aja.” Lidya duduk di halte, hujan semakin deras. Tangannya gemetar, air mata berca...

Album Foto Lidya

Album foto lidya Malam itu, aroma sayur bening dan ikan goreng memenuhi ruang makan. Lampu kuning menggantung di atas meja, menciptakan suasana hangat. Makan malam selalu menjadi ritual wajib bagi ayah dan Lidya. Di sinilah mereka melepas lelah, saling bercerita tentang hari yang panjang. Namun, malam ini Lidya tak sepenuhnya fokus. Pandangannya melayang pada foto keluarga yang tergantung di ruang tamu. Foto itu diambil ketika Lidya masih balita, di hari ulang tahunnya yang ketiga. "Yah," Lidya akhirnya membuka suara, suaranya pelan. Ayah yang sedang merapikan piring menoleh. "Hm?" "Aku mirip ibu waktu kecil, nggak?" Ayah terdiam sejenak. Bibirnya tersenyum samar. "Ayah nggak tahu persis, tapi ayah punya album foto ibu. Mau lihat?" Lidya mengangguk antusias. Ayah bangkit dan mengambil album foto dari lemari kayu di ruang tamu. Debu tipis menempel di sampulnya. "Ini foto ibu waktu SMA," ujar ayah sambil menunjuk gadis berambut kuncir kud...

Meja Makan Lidya

“Meja Makan Lidya ” Hari itu, Lidya dan kedua saudaranya berlari pulang dari sekolah. Masing-masing menggenggam rapor dengan jantung berdebar. “Aku ranking dua!” seru Lidya bangga, menaruh rapornya di meja ruang tamu. Kakaknya langsung menyambar, “Aku ranking satu lagi. Ibu pasti seneng.” Si bungsu ikut menyelip, “Tapi aku juara lomba menggambar, Bu guru bilang gambarku dipajang di aula!” Mereka tak sadar, suara mereka saling bertumpuk, seakan siapa yang paling keras akan mendapat perhatian ibu lebih dulu. Ibu muncul dari dapur. Matanya berputar memperhatikan tiga anaknya, sebelum akhirnya mengambil rapor kakak. “Bagus sekali! Ini baru anak Ibu!” katanya sambil tersenyum lebar. Tatapannya kemudian berpindah pada rapor Lidya. “Kamu harus bisa seperti kakakmu, Nak. Nilaimu bagus, tapi lihat ini… masih kalah di Matematika.” Lidya diam. Matanya panas. Malam harinya, meja makan menjadi panggung perbandingan. Ayah ikut menimpali, memuji yang nilainya tertinggi, memberi wejangan pada yang lai...

Pita Merah Jambu Lidya

Pita Merah Jambu Lidya Aku masih menyimpan pita merah jambu itu. Pita yang kusimpan di dalam kotak kayu kecil, di sudut lemari yang jarang dibuka orang. Benda itu menjadi satu-satunya hadiah pertama—dan terakhir—yang pernah kuterima dari ayahku. Aku lahir dari keluarga yang tidak sempurna. Ayah dan ibu menikah terlalu muda, ketika mereka bahkan belum tahu bagaimana menjaga diri, apalagi rumah tangga. Mereka sering bertengkar, berdebat soal siapa yang paling lelah, siapa yang paling benar. Hingga saat aku belum genap berusia satu tahun, rumah itu pecah. Ayah pergi, ibu memilih bertahan hidup sendirian bersamaku. Aku tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahku. Tak ada foto, tak ada nomor telepon, tak ada alamat. Bagiku, ayah hanya nama yang samar-samar disebut ketika ibu sedang marah atau sedang menangis. Masa kecilku tidak mudah. Setiap kali teman-temanku merayakan ulang tahun di sekolah, aku hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati, ada rasa iri. Tapi aku tahu ibu pulang kerja selalu lelah...

Sapu Tangan Biru Lidya III

Sapu tangan biru lidya III Pagi itu langit biru membentang tenang. Jalan setapak menuju pemakaman masih basah oleh embun. Seorang anak perempuan kecil menggenggam tangan ayahnya. Langkah mereka pelan, seakan tak ingin mengusik ketenangan di sekitar. Sesampainya di pusara, ayah duduk bersila, menunduk lama. Bibirnya bergetar melafalkan doa, lalu hening. Anak itu memperhatikan wajah ayahnya yang basah oleh air mata. “Yah…” suara anak itu pelan, ragu. “Kenapa kita sering ke sini? Kenapa ayah selalu nangis?” Ayah menoleh, mengusap pipinya cepat-cepat. “Ayah kangen ibu, ya?  Ayah terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada batu nisan itu. Nafasnya panjang, berat, seolah ada yang ditahan terlalu lama. “Nak…” ayah memulai. "Dulu hidup Ayah sering disakiti dan dikhianati teman dan dikhianati pasangan. Lima kali ayah bertunangan, lima-limanya gagal. Ada yang selingkuh, ada yang orang tuanya nggak merestui. Sampai akhirnya ayah nggak percaya lagi sama cinta. Ayah pikir… cinta itu cuma bikin or...

Sapu Tangan Biru Lidya II

Sapu tangan biru Lidya II Suara pintu kamar terbanting keras menggema di seluruh rumah. Lidya duduk di ujung kasurnya, wajahnya memerah, napasnya tersengal. “Kenapa sih, Bu?! Selalu salah di mata Ibu! Aku capek diatur terus!” bentaknya sebelum mengurung diri. Di luar kamar, ibunya masih berdiri mematung. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia duduk di sofa ruang tamu, menahan tangis yang akhirnya pecah. "Apakah aku gagal jadi ibu?" bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Sore itu, ayah Lidya pulang. Melihat istrinya menangis, ia duduk di sampingnya, mengelus rambutnya pelan. “Aku… aku takut, Mas,” suara ibu bergetar. “Takut Lidya benci sama aku. Aku cuma ingin dia jadi anak baik. Tapi kenapa rasanya aku selalu salah?” Ayah tak langsung menjawab. Matanya ikut basah. Ia berdiri, berjalan ke kamar Lidya, mengetuk pintu pelan. “Masuk,” sahut Lidya lirih. Ayah duduk di tepi kasur, menatap wajah putrinya yang masih masam. “Lidya,” suara ayah pelan, “Ayah cuma mau cerita.” Lidya melirik sekila...

Sapu Tangan Biru Lidya I

Sapu tangan biru Lidya I Hujan mengetuk jendela kamar malam itu. Udara dingin membuat anak perempuan itu merapatkan selimutnya. Ia menoleh ke ibunya yang sedang duduk di sisi ranjang. “Bu,” tanyanya pelan, “ayah itu seperti apa?” Ibu tersenyum tipis. Pertanyaan itu sudah lama ia tunggu-tunggu, meski hatinya selalu bergetar tiap kali mendengarnya. Perlahan ia mengusap kepala anaknya. “Ayahmu… orang yang pendiam,” jawab ibu. “Dia tidak banyak bicara. Bahkan saat marah, ia tidak pernah meninggikan suara.” Anak itu mengerutkan kening. “Kalau marah, terus ayah diam saja?” Ibu terkekeh kecil. “Tidak. Ayahmu punya caranya sendiri. Dia akan duduk di meja kerja, membuka buku catatannya, dan menulis sampai hatinya lega. Ayah percaya, kata-kata yang ditulis lebih aman daripada kata-kata yang keluar saat marah.” Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum mengenang sesuatu. “Aku ingat satu malam,” lanjutnya. “Ayahmu pulang dari kantor. Wajahnya lelah. Ada masalah di tempat kerja, tapi ia tetap duduk bersa...

Sepecundang apa dirimu?

Dikala teman teman seusiaku sudah memiliki keluarga atau memiliki kerja yang mapan bahkan ada yang sudah mendapatkan mimpinya, sedangkan diriku masih berjalan dijalanan membawa kertas lamaran kerja kesana kemari. Sepanjang jalan sembari menunduk, aku berpikir apa yang salah dari diriku? Apa kesempatan yang sebenarnya telah ku sia-siakan? Apa perubahan yang harus aku lakukan? Karena lelah, akhirnya aku singgah diwarung kopi, akan tetapi riuh dikepalaku masih memberikan jutaan pertanyaan perihal apa dan kenapa? Apakah nasibku yang memang selalu tidak beruntung? Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Apakah mimpiku terlalu tinggi, sehingga mustahil untuk digapai? Atau ketakutan-ketakutanku yang selama ini menghalangiku untuk maju? Apa yang sebenarnya aku cari? Kala semua orang tanpa ragu merendahkanku, aku hanya bisa diam dan mengiyakan apa yang mereka katakan, kala semua orang menghina diriku, aku hanya bisa diam dan mengiyakan lagi apa yang telah mereka lakukan, bahkan disaat semua menj...

Greetings..🤗☕

Hai sobat pembaca... Semoga sobat sekalian selalu tersenyum yah^^ Tulisan-tulisan yang akan hadir seperti memoar diary setiap hari. Akan tetapi... Diriku masih mengumpulkan segenap keberanian dan menetapkan hati untuk menulis, sebagai penulis amatir masih banyak yang perlu dipelajari oleh sebab jan sungkan memberi masukan dan saran sebagai bentuk perbaikan untuk kedepannya Harapan saya disini, semoga di Blog ini kita bersama bisa menemukan rumah untuk menumpahkan seluruh resah, lelah dan gelisah yang kita rasakan. Karena besar keyakinanku, dibalik lorong lorong gelap kehidupan, kita bersama akan menemukan secercah cahaya untuk kembali berharap dan menemukan kekuataan untuk kembali melangkah demi mewujudkan harapan menjadi kenyataan.